Rukun-rukun Shalat

Shalat merupakan ibadah yang agung. Shalat merupakan rukun islam yang paling penting setelah syahadatain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara, (yaitu) persaksian bahwasanya tiada sesembahan yang benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah (Ka’bah -pent), puasa ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rukun, Wajib, Sunah

Para ulama mendefinisikan shalat sebagai perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbir, dan diakhiri dengan salam. Perkataan dan perbuatan tersebut terbagi menjadi tiga :
  • Rukun
Jika ditinggalkan satu saja darinya, baik sengaja maupun lupa, maka shalatnya batal; atau raka’atnya batal, sehingga raka’at selanjutnya menggantikan raka’at yang batal tadi.
  • Wajib
Jika ditinggalkan satu saja darinya dengan sengaja, maka shalatnya batal. Dan jika ditinggalkan karena lupa, maka shalatnya tidak batal, dan dia harus sujud sahwi.
  • Sunnah
Jika ditinggalkan, baik sengaja maupun lupa; maka shalatnya tidak batal. Namun, pahalanya shalatnya akan berkurang. (al-Mulakhkhosh al-Fiqh, I/90)

Nabi Shalat dengan sempurna

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan sempurna, yaitu dengan mengerjakan semua rukun, wajib, dan sunnah shalat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat.” (HR. Bukhari No. 6008)

Lima Belas Rukun Shalat

Yang dimaksud dengan rukun shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang membentuk hakikat shalat. Rukun-rukun shalat tersebut ialah
1. Takbiratul ihram
Yaitu membaca takbir di awal shalat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan selainnya; lihat Shahih Ibnu Majah No. 222)

2. Berdiri bagi yang mampu saat mengerjakan shalat wajib
Allah berfirman yang artinya, :“... Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” [Al-Baqarah: 238] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak bisa, maka (shalatlah) dengan duduk. Jika tidak bisa, maka (shalatlah) dengan (tidur) miring." (HR. Bukhari 2/60)

Tetap berdiri walaupun dikendaraan

Bolehkah shalat dengan duduk ketika naik pesawat, sementara dia bisa berdiri, karena malu? Lembaga Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah menjawab pertanyaan tersebut : “Tidak boleh shalat dengan duduk di pesawat, atau kendaraan lainnya; apabila dia mampu berdiri. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala (yang artinya) : ‘Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.' [Al-Baqarah: 238]’, dan hadis yang diriwayatkan oleh shahabat ‘Imran bin Hushoin radhiyallaahu ‘anhu, bahwsanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Shalatlah dengan berdiri. Jika engkau tidak bisa, maka (shalatlah) dengan duduk. Jika tidak bisa, maka (shalatlah) dengan (tidur) miring." (HR. Bukhari 2/60)’. Imam an-Nasa’i menambahkan: ‘Jika tidak mampu maka shalatlah dengan berbaring terlentang.’ dengan sanad yang shahih.” (Fatwa no. 12087/7)

3. Membaca surat al-Faatihah pada setiap raka'at
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak (sah) shalat orang yang tidak membaca surat al-Faatihah." (Muttafaqun ‘alaih) Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menyuruh orang yang buruk shalatnya untuk membacanya, kemudian beliau bersabda, "Kemudian lakukanlah yang seperti itu pada seluruh shalatmu (yaitu pada setiap rakaatmu -pent)." (Muttafaqun ‘alaih)

4, 5. Ruku' dan thuma'ninah (berhenti sejenak -pent) di dalamnya
Allah Ta'ala berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabb-mu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” [Al-Hajj: 77] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kemudian ruku'lah hingga kau merasa tenang dalam ruku'mu." (Muttafaqun ‘alaih)

6, 7. Berdiri tegak setelah ruku' dan thuma'ninah di dalamnya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kemudian bangkitlah hingga kau tegak berdiri." (Muttafaqun ‘alaih)

8, 9. Sujud dan thuma'ninah di dalamnya Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu...” [Al-Hajj: 77] Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kemudian bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujudmu. Lalu bangkitlah hingga engkau thuma’ninah dalam dudukmu. Lantas bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujudmu." (Muttafaqun ‘alaih)

Tujuh Anggota Sujud

Yaitu : (1) dahi dan hidung, (2, 3) kedua tangan, (4, 5) kedua lutut, serta (6, 7) ujung jari-jemari kedua kaki. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku diperintah untuk bersujud di atas tujuh tulang: di atas dahi, -sambil menunjuk ke hidungnya-, kedua tangan, kedua lutut, serta ujung jari-jemari kedua kaki." (Muttafaqun ‘alaih) Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, "Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah sebagaimana menempelkan dahinya." (HR. ad-Daaruquthni I/348/3, dishahihkan oleh al-Albaniy rahimahullah)

10, 11. Duduk di antara dua sujud dan thuma'ninah di dalamnya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Kemudian bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujudmu. Lalu bangkitlah hingga engkau thuma’ninah dalam dudukmu. Lantas bersujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujudmu." (Muttafaqun ‘alaih)

12, 13. Membaca Tasyahhud akhir, dan duduk padanya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam shalat, maka ucapkanlah “at tahiyatu lillah … (bacaan tasyahhud)” (Muttafaqun ‘alaih) Ada beberapa macam bacaan Tasyahud yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya adalah bacaan Tasyahhud yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, dimana dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajariku tasyahhud secara langsung, sebagaimana beliau mengajariku surat dalam al-Qur-an. ‘Attahiyyaatulillaah … (bacaan tasyahhud, yang artinya : ‘Segala penghormatan hanya bagi Allah. Begitupula seluruh pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas engkau, wahai Nabi. Begitu pula kasih sayang Allah dan berkahNya. Mudah-mudahan kesejahteraan tercurahkan atas kita semua dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.)" (Muttafaqun ‘alaih)

14. Membaca shalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah tasyahhud akhir
Hal ini berdasarkan hadits Fadhalah bin 'Ubaid al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki yang sedang berdoa di dalam shalatnya. Laki-laki tersebut tidak menyanjung Allah, dan tidak bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas berkata, "Orang ini terlalu tergesa-gesa." Kemudian beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya atau kepada selainnya, "Jika salah seorang di antara kalian shalat, hendaklah ia memulai dengan sanjungan dan pujian pada Rabb-nya lalu bershalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah itu dia boleh berdo’a sesuka hatinya." (HR. Abu Dawud No. 1481, dan selainnya; dishahihkan oleh al-Albaniy rahimahullah)
Ada beberapa bacaan shalawat yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, diantaranya adalah bacaan yang diriwayatkan Ka'b bin 'Ujrah, dimana dia mengatakan bahwa kami (para shahabat) berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui atau mengenal bagaimana mengucap salam atas engkau. Lalu bagaimana dengan bacaan shalawat?" . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, "Ucapkanlah: Allaahumma shalli ‘ala muhammad … (bacaan shalawat, yang artinya: ‘Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahaagung. Serta berilah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahaagung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Silahkan merujuk ke kitab Shifat Shalat Nabi karya al-Albany rahimahullah untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci tentang kedua point di atas (bacaan tasyahhud dan shalawat).

15. Salam
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Kunci shalat adalah bersuci. Pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan selainnya; lihat Shahih Ibnu Majah No. 222)

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk selalu bisa sesuai di atas ketaatan kepada-Nya.

Referensi utama :
- al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz, Dr. ‘Abdul ‘Adziim al-Badawiy, cet. III, Daarul Ibni Rajab, Mesir, 1431 H
- al-Mulakhkhosh al-Fiqh, Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah, cet. II, Daarul ‘Aqiidah, Iskandaria, 1430 H

Posting Komentar