Catatan Prasetyo Abu Kaab

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tafsir. Tampilkan semua postingan

28 Maret 2021

Mengenal 55 Nama al-Quran

Maret 28, 2021 Posted by Abu Kaab , , No comments
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah.

Pada postingan sebelumnya, kita telah mengenal nama-nama dan sifat-sifat al-Quran secara ringkas.

Berikut ini lima puluh lima nama-nama al-Quran yang disebutkan Jalal Suyuthiy rahimahullaah, menukil ucapan Abul Ma'aliy 'Uzaiziy bin Abdul Malik, yang dikenal dengan Syaidzalah rahimahullaah, dalam kitabnya al-Burhan.

1. Qur-aan
2. Kitaab
3. Mubiin
4. Quroon (bacaan Ibnu Katsir dan selainnya, wallaahu a'lam)
5. Kariim
6. Kalaam
7. Nuur
8. Hudaa
9. Rahmah
10. Furqaan
11. Syifaa-
12. Mau'idzoh
13. Dzikr
14. Mubaarok
15. 'Aliyy
16. Hikmah
17. Hakiim
18. Muhaimin
19. Habl
20. Shiraat Mustaqiim
21. Qoyyim
22. Qoul
23. Fashl
24. Naba-un 'Adziim
25. Ahsanul Hadiits
26. Mutasyaabih
27. Matsaaniy
28. Tanziil
29. Ruuh
30. Wahy
31. 'Arobiy
32. Bashooir
33. Bayaan
34. 'Ilm
35. Haqq
36. Hadiy
37. 'Ajab
38. Tadzkiroh
39. al-'Urwatul Wutsqaa
40. Shidq
41. 'Adl
42. Amr
43. Munaadiy
44. Busyroo
45. Majiid
46. Zabuur
47. Basyiir
48. Nadziir
49. 'Aziiz
50. Balaagh
51. Qoshosh
52. Shuhuf
53. Mukarromah
54. Marfuu'ah
55. Muthohharoh


وَقَالَ أَبُو الْمَعَالِي عُزَيْزِيُّ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ المعروف بشيذلة فِي كِتَابِ الْبُرْهَانِ: اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ سَمَّى الْقُرْآنَ بِخَمْسَةٍ وَخَمْسِينَ اسْمًا:
سَمَّاهُ كِتَابًا وَمُبِينًا فِي قوله: {حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ} .
وقرآنا وكريما: {إِنَّهُ لَقُرَانٌ كَرِيمٌ} .
وَكَلَامًا: {حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ} .
وَنُورًا: {وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُوراً مُبِيناً} .
وهدى ورحمة: {وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ} .
وَفُرْقَانًا: {نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ} .
وَشِفَاءً: {وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ} .
وموعظة: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ} .
وَذِكْرًا وَمُبَارَكًا: {وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ} .
وَعَلِيًّا: {وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ} .
وحكمة: {حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ} .
وحكيما: {لْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ} .
وَمُهَيْمِنًا: {مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِناً} .
وحبلا: {وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ} .
وَصِرَاطًا مُسْتَقِيمًا: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً} .
وقيما: {قَيِّماً لِيُنْذِرَ بَأْساً شَدِيداً} .
وَقَوْلًا وَفَصْلًا: {إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ} .
وَنَبَأً عَظِيمًا: {عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ النَّبَأِ الْعَظِيمِ} .
وَأَحْسَنَ الْحَدِيثِ وَمُتَشَابِهًا وَمَثَانِيَ: {اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُتَشَابِهاً مَثَانِيَ} .
وَتَنْزِيلًا: {وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ} .
وَرُوحًا: {أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِنْ أَمْرِنَا} .
ووحيا: {إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ} .
وعربيا: {قُرْآناً عَرَبِيّاً} .
وبصائر: {هَذَا بَصَائِرُ} .
وبيانا: {هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ} .
وَعِلْمًا: {مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ} .
وَحَقًّا: {إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ} .
وَهَدْيًا {إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي}
وعجبا: {قُرْآناً عَجَباً} .
وتذكرة: {وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ} .
والعروة الوثقى: {فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى} .
وصدقا: {وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ} .
وعدلا: {وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً} .
وَأَمْرًا: {ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ} .
وَمُنَادِيًا: {سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلْإِيمَانِ} .
وبشرى: {هُدىً وَبُشْرَى} .
وَمَجِيدًا: {بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ} .
وَزَبُورًا: {وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ} .
وَبَشِيرًا وَنَذِيرًا: {كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ بَشِيراً وَنَذِيراً} .
وعزيزا: {وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ} .
وبلاغا: {هَذَا بَلاغٌ لِلنَّاسِ} .
وقصصا: {أَحْسَنَ الْقَصَصِ} .
وسماه أربعة أسماء في آيتين وَاحِدَةٍ: {فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ} انْتَهَى.

27 Desember 2020

Lima Perkara untuk Menjadi Ahli Quran

Desember 27, 2020 Posted by Abu Kaab , , , No comments
 

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

Berikut ini lima perkara, jika seseorang berpegang teguh dengannya, niscaya mereka menjadi ahli Quran, yang merupakan orang terpilih di sisi Allah :

1. Banyak membaca al-Quran

- Diantara keutamaan membaca al-Quran : mendapatkan 10 kebaikan dari setiap huruf yang dibaca
- Waktu ideal mengkhatamkan al-Quran antara 3 - 40 hari
- Sangat dibenci bagi seseorang yang bisa membaca al-Quran, namun tidak mengkhatamkannya lebih dari 40 hari

2. Menghafal al-Quran

3. Membaca al-Quran dengan benar

- Perintah Abu Bakar memerintahkan untuk mengi'rab (membaca dengan benar) al-Quran
- Ibnu Umar menghukum anak-anaknya jika mereka tidak membaca al-Quran dengan benar, dan dia tidak menghukum anak-anaknya jika tidak menghafal al-Quran (pent- membaca al-Quran dengan benar, lebih penting dari menghafalnya)

4. Mengilmui tafsir al-Quran

- Abu Abdurrahman as-Sulamiy menceritakan tentang cara belajar al-Quran para salaf
- Ucapan Abu Darda' tentang batasan minimal seorang fakih

5. Mengamalkan al-Quran 

- ahlul Quran tampak dalam kesehariannya, berupa tingkah laku, ucapan, akhlak, dan lain sebagainya
- al-Quran bisa menjadi hujah yang menolong seseorang, bisa juga menjadi hujah yang menjatuhkan seseorang

(Syaikh Abdussalaam as-Suwai'ir hafidzahullaah)

23 April 2015

Al-Quran - Makna dan Keistimewaan-keistimewaannya

April 23, 2015 Posted by Abu Kaab , , , No comments
Sungguh, al-Quran memiliki banyak sekali keistimewaan. Perkara tersebut tentu tidak samar lagi bagi siapa saja yang membaca al-Quran, as-Sunnah, dan kitab-kitab para ulama kaum muslimin, karena di dalamnya banyak menyebutkan keistimewaan-keistimewaan tersebut. Bahkan, mantan perdana mentri salah satu negara di Eropa yang tahu sedikit tentang keistimewaan al-Quran mengatakan, “Selama al-Quran ini masih ada, Eropa tidak akan sanggup menguasai Timur yang Islam.”
Namun sangat disayangkan, sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada Islam berusaha mengaburkan perkara ini. Sebagian dari mereka menyamakan al-Quran dengan kitab-kitab suci agama lain yang ada saat ini. Bahkan, sebagian yang lain menyamakannya dengan kitab-kitab buatan manusia. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan mereka.
Pada bahasan utama kali ini, kami sampaikan sedikit bahasan tentang makna al-Quran dan  sebagian keistimewaan-keistimewaannya. Semoga hal ini dapat menambah ilmu kita dan menjadikan kita lebih bersungguh-sungguh dalam membaca, mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan apa-apa yang ada di dalamnya.

Makna Al-Quran

Secara istilah, al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana seseorang beribadah dengan membacanya. Berikut ini penjelasan singkat terhadap makna tersebut:

  • “Firman Allah,” (kalam Allah) tidak mencakup perkataan manusia, jin, malaikat, atau makhluk selain mereka. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah (al-Quran), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah: 6)
  • “yang diturunkan,” tidak mencakup firman Allah yang Dia sembunyikan menjadi ilmu ghaib di sisi-Nya, atau firman Allah kepada malaikat untuk mereka laksanakan (tidak untuk mereka turunkan kepada salah seorang manusia). Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)
  • “kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam,” tidak mencakup firman Allah yang diturunkan kepada selain beliau, seperti Taurat yang diturunkan kepada Musa 'alaihis salam, Injil yang diturunkan kepada Isa 'alaihis salam, dan selainnya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (QS. Al-Insan: 23)
  • “dimana seseorang beribadah dengan membacanya,” tidak mencakup hadits qudsi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf saja dari al-Quran, maka dengannya dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat-gandakan menjadi sepuluh....” (HR. Tirmidzi, shahih)

(lihat Dirasat fi 'Ulumil Quran hal. 23)

Sebagian Keistimewaan Al-Quran

Dari makna al-Quran di atas, tampak bagi kita sebagian keistimewaan-keistimewaan al-Quran, diantaranya:

  • Al-Quran merupakan kalam Allah Ta'ala.
  • Membacanya , baik di dalam shalat maupun di luar shalat, ternilai sebagai ibadah.
  • Al-Quran diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana beliau merupakan rasul paling mulia dan terakhir yang tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau.
  • Al-Quran merupakan mukjizat. 
Mukjizat merupakan salah satu dari beberapa hal yang menunjukkan atas benarnya kerasulan Muhammad shallallahu 'alihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menantang bangas Arab – bersamaan dengan kebencian mereka terhadap beliau shallallahu 'alihi wa sallam dan kefasihan mereka dalam berbahasa – untuk membuat satu surat saja yang semisal dengan dengan al-Quran. Namun, mereka tidak mampu dan tidak akan mampu; lebih-lebih lagi selain mereka dari selain bangsa Arab. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS. Yunus: 38)

  • Al-Quran dijamin terlepas dari perubahan dan penggantian. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Keistimewaan ini tidak dimiliki oleh kitab-kitab samawi lainnya, seperti Injil dan Taurat, karena keduanya telah dirubah oleh Yahudi dan Nashara.

  • Al-Quran dijamin terlepas dari saling kontradiksi. 
Hal tersebut berdasarkan firman Allah yang artinya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa:82) Ibnu
Katsir rahimahullah mengatakan, “Andaikan al-Quran itu buatan manusia –  seperti yang dikataka oleh orang-orang jahil yang musyrik dan munafik hati mereka –, tentulah mereka akan mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. Sedangkan al-Quran terlepas dari perselisihan, sehingga menunjukkan bahwa ia berasal dari sisi Allah Ta'ala....”
Dan sejarah telah membuktikan bahwa siapa saja yang berusaha merubah al-Quran, pasti Allah Ta'ala membongkar kedoknya.

  • Di dalam al-Quran ada semua yang dibutuhkan manusia berupa akidah, ibadah, hukum, muamalah, akhlak, politik, ekonomi, dan lain sebagainya dari hal-hal yang pasti dibutuhkan oleh masyarakat. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.” (QS. Al-An'am: 38) Imam Thabari rahimahullah berkata menafsirkan firman Allah yang artinya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89), beliau rahimahullah mengatakan: “Diturunkan kepadamu, wahai Muhammad, al-Quran ini sebagai penjelas bagi semua yang dibutuhkan oleh manusia, untuk mengetahui halal, haram, pahala dan siksa....”

  • Al-Quran merupakan obat penyembuh hati dari penyakit syirik, nifak, dan selainnya; dan juga ada ayat-ayat dan surat-surat untuk kesembuhan jasmani, seperti surat al-Fatihah, surat al-Falaq, surat an-Naas, dan selainnya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih. 
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)
Allah juga berfirman yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Dan masih banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya. (lihat Kaifa Nafhamul Quran -terj Bagaimana Kita Memahai al-Quran)

Demikianlah sedikti pembahasan tentang makna al-Quran dan sebagian keistimewaan-keistimewaannya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita untuk senantiasa berpegang teguh dengan Kitab-Nya yang mulia.

Maraji' utama:
- Dirasat fi 'Ulumil Quran, karya Syaikh Fahd bin 'Abdirrahman ar-Rumiy,
- Kaifa Nafhamul Quran, karya Syaikh Jamil Zainu (terj: Bagaimana Kita Memahai al-Quran, penerbit: Cahaya Tauhid Press)

5 Juli 2014

Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Al-Quran

Juli 05, 2014 Posted by Abu Kaab , , , , No comments
Dalam al-Quran dan as-Sunnah, terdapat banyak sekali nama dan sifat al-Quran. Bahkan, banyak kitab yang ditulis oleh para ulama khusus membahas tentang nama-nama tersebut, seperti Syarh Asmaa-il Kitaabil 'Aziiz, karya Ibnul Qayyim rahimahullah dan  Asmaa-ul Quran fil Quran, karya Muhammad Jamil.

Perkara Tauqifiy

Sebelum kita masuk rincian sebagian nama-nama dan sifat-sifat al-Quran, perlu diketahui bahwa dasar penentuan nama dan sifat al-Quran merupakan perkara tauqifi (harus berdasarkan dalil, bukan dengan akal semata). Oleh karena itu, seseorang tidak boleh memberikan nama kepada al-Quran, atau mensifatinya dengan selain dari apa-apa yang terdapat dalam al-Quran itu sendiri atau dalam as-Sunnah.

Nama-nama Al-Quran

Diantara nama-nama al-Quran tersebut ialah:

  • al-Quran

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,” (QS. Al-Waqi'ah: 77)

  • al-Kitab

Allah berfirman yang artinya, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya;” (QS. Al-Baqarah: 2)

  • adz-Dzikr

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

  • al-Furqan (pembeda)

Allah berfirman yang artinya, “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (QS. Al-Furqan: 1)

  • an-Nur (cahaya)

Allah berfirman yang artinya, “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. At-Taghabun: 8)
Dan masih banyak nama-nama yang lainnya.

Sifat-sifat Al-Quran

Diantara sifat-sifat al-Quran ialah:

  • Mubarak (diberkahi)

Allah berfirman yang artinya, “Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi;” (QS. Al-An'am: 92)

  • Petunjuk dan Rahmat

Allah berfirman yang artinya, “Menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Luqman: 3)

  • Karim (mulia)

Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia,” (QS. Al-Waaqi'ah: 77)

  • Hakiim (mengandung hikmah)

Allah berfirman yang artinya, “Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah.” (QS. Yasin: 2)

  • Ucapan terbaik

Allah berfirman yang artinya, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Yasin: 2)
Dan masih banyak sifat-sifat yang lainnya.

Faedah dari Banyaknya Nama

Banyaknya nama, menunjukkan kepada agungnya sesuatu yang mempunyai nama tersebut. Hari kiamat – misalkan – mempunyai banyak nama (hari pembalasan, hari pembangkitan, dan lain-lain) yang menunjukkan kepada kedahsyatan hari tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mempunyai banyak nama (Ahmad, Muhammad, Hasyir, dan lain-lain) yang menunjukkan kepada kemuliaan dan ketinggian derajat beliau. Demikian juga al-Quran mempunyai banyak nama yang menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya.
Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kaum muslimin al-Quran yang mulia.
Wallahu ta'ala a'lam.

Marji': Dirasat fi 'Ulumil Quran, karya Syaikh Fahd bin 'Abdirrahman ar-Rumiy

27 Juni 2014

Sumber-Sumber Rujukan dalam Menafsirkan al-Quran

Juni 27, 2014 Posted by Abu Kaab , , No comments
Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
Tadabbur terhadap al-Quran, tidak akan bisa terwujud bila seseorang tidak tahu makna atau tafsir dari ayat tersebut. Pada edisi kali ini, kami bawakan bahasan tentang sumber-sumber rujukan dalam menafsirkan al-Quran. Semoga Allah memudahkan kita dalam men-tadabburi ayat-ayat-Nya.

Penerjemah dari Allah Ta'ala

Sebelum masuk ke inti bahasan, kita perlu mengetahui tentang kewajiban kita dalam menafsirkan al-Quran. Syaikh 'Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kewajiban seorang muslim dalam menafsirkan al-Quran ialah menempatkan dirinya sebagai penerjemah dari Allah Ta'ala, sebagai saksi  bagi-Nya terhadap apa yang diinginkan oleh kalamullah; sehingga dia akan memandang besar persaksian ini, dan takut berbicara tentang Allah tanpa ilmu, serta melakukan perbuatan yang diharamkan-Nya yang menyebabkan dia mendapat kehinaan di Hari Kiamat. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Katakanlah: 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A'raf: 33)” (Ushul fi Tafsir)

Sumber-sumber Rujukan dalam Menafsirkan al-Quran

Para ulama telah menjelaskan dalam kitab-kitab mereka tentang sumber-sumber rujukan dalam menafsirkan al-Quran. Sumber-sumber tersebut adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah, yaitu al-Quran ditafsirkan dengan al-Quran. 
Hal tersebut dikarenakan Allah-lah yang menurunkan al-Quran sehingga Dia lebih mengetahui apa-apa yang diinginkan dari firman-Nya tersebut. Cara ini merupakan cara terbaik dalam menafsirkan al-Quran.
Contoh dari tafsir al-Quran dengan al-Quran ialah firman Allah yang artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62) Allah menafsirkan 'wali-wali Allah' dengan firman-Nya dalam ayat setelahnya (yang artinya), “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”(QS. Yunus: 63)
2. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu menafsirkan al-Quran dengan sunnah beliau  shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hal tersebut dikarenakan Rasulullah adalah manusia yang menyampaikan syariat dari Allah Ta'ala sehingga beliau merupakan manusia yang paling mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dari firman-Nya tersebut. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,” (QS. An-Nahl: 44) Imam Ahmad mengatakan: “Sunnah merupakan tafsir dari al-Quran dan penjelas baginya.” Perkataan yang serupa juga dikatakan oleh Imam Syafi'i rahimahumallah.
Contoh dari tafsir al-Quran dengan sunnah ialah firman Allah Ta'ala yang artinya, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahan. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26) Rasulullah menafsirkan 'tambahan' dengan 'melihat wajah Allah', sebagaimana terdapat dalam hadits dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah. Banyak hadits serupa yang menjelaskan makna seperti itu.
3. Perkataan Shahabat, khususnya mereka yang berilmu dan mempunyai perhatian khusus di dalam ilmu tafsir. 
Hal tersebut karena al-Quran turun dengan bahasa mereka, dan di masa mereka. Selain itu, mereka merupakan manusia yang paling jujur (setelah para nabi) dalam mencari kebenaran, paling selamat dari hawa nafsu, paling bersih dari penyelisihan-penyelisihan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang dapat menghalangi seseorang dari taufik Allah Ta'ala.
Contoh tafsir al-Quran dengan perkataan shahabat ialah firman Allah Ta'ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 43) Telah shahih atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dimana beliau menafsirkan 'menyentuh' dengan 'bersetubuh'. (Mushannaf 'Abdurrazzaq, dan selainnya)
4. Perkataan Tabi'in yang menaruh perhatian terhadap ilmu tafsir yang mereka ambil dari para shahabat. 
Hal tersebut dikarenakan tabi'in merupakan manusia terbaik setelah para shahabat, dan mereka lebih selamat dari hawa nafsu dibandingkan dengan orang-orang yang datang setelah mereka, serta bahasa arab belum banyak berubah pada masa mereka; sehingga mereka lebih dekat kepada kebenaran dalam menafsirkan al-Quran dibandingkan dengan orang-orang setelah mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia (setelah para nabi) adalah orang-orang yang ada pada generasiku (yaitu para shahabat), kemudian setelah mereka (yaitu para tabi'in), kemudian setelah mereka.” (HR. Bukhari dan selainnya).
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika tabi'in bersepakat atas suatu perkara, maka tidak diragukan lagi ke-hujjah-annya. Apabila mereka berbeda pendapat, maka kita tidak bisa menjadikan perkataan sebagian mereka sebagai hujjah (bantahan) atas sebagian yang lain, baik dari kalangan tabi'in, ataupun orang-orang yang datang setelah meraka; sehingga penyelesaiannya dikembalikan kepada bahasa al-Quran, atau sunnah, atau keumuman bahasa arab, atau pendapat shahabat dalam perkara tersebut.” (Majmu' Fatawa)
Contoh penafsiran al-Quran dengan perkataan tabi'in ialah firman Allah yang artinya, “Kemudian Dia istawa ke langit.” (QS. Al-Baqarah: 29) Mujahid rahimahullah mengatakan, “Istawa ialah naik tinggi.”
5. Segala sesuatu yang ditunjukkan oleh makna-makna syar'iyyah atau lughawiyyah (bahasa) yang sesuai dengan konteks kalimat.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 3)
Allah juga berfirman yang artinya, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4)

Demikain bahasan utama kali ini. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita semua. Wallahu Ta'ala a'lam.

Marji' utama: Ushul fi Tafsir, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahulla.

22 Juni 2014

Bagaimana Cara Mengambil Manfaat dari al-Quran?

Juni 22, 2014 Posted by Abu Kaab , , , No comments

Sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan al-Quran kepada manusia bukan hanya sekedar untuk dibaca, tapi juga agar mereka memahami, mentadabburi, dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29) Sungguh hal tersebut merupakan manfaat yang sangat besar.
Dalam fawaid kali ini, kami bawakan bahasan ringkas  tentang bagaimana cara mengambil manfaat dari al-Quran. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dengan apa-apa yang ada di dalam al-Quran.

SANGAT SINGKAT TAPI PADAT

Syaikh Jamil Zainu rahimahullah mengatakan:
Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)
Kalau engkau hendak mengambil manfaat dari al-Quran, maka konsentrasikanlah hatimu tatkala membacanya, arahkan pendengaranmu seolah-olah engkau mendengarnya langsung dari Siapa yang mengucapkannya, karena al-Quran adalah pembicaraan Allah kepadamu melalui lisan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Mesti demikian, sebab kesempurnaan refleksi bergantung kepada subjek pemberi pengaruh, objek, terpenujinya syarat dan tidak adanya penghalang.
Hal ini dijelaskan oleh hanya satu ayat dalam lafadznya yang sangat singkat tapi padat. [Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)]

[SUBJEK]

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan,
mengisyaratkan kepada ayat-ayat sebelumnya (mulai dari awal sura Qaf hinga ayat di atas). Inilah subjek.

[OBJEK]

Bagi orang-orang yang mempunyai hati,
inilah objek, yaitu hati yang hidup dan memahami wahyu Allah Ta'ala. Hal tersebut sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (QS. Yasin: 69-70)

[SYARAT DAN PENGHALANG]

Atau yang menggunakan pendengarannya,
artinya mengarahkan pendengaran kepada ucapan yang dihadapkan kepadanya. Inilah syarat.
Sedang dia menyaksikannya,
artinya hatinya hadir berkonsentrasi.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Dengarlah baik-baik Kitabullah sedangkan hatimu dalam keadaan konsentrasi dan faham, bukan lalai dan lupa.”
Ini mengisyaratkan kepada penghalang, yaitu lalainya kalbu akan apa yang dikatakan kepadanya, tidak memperhatikan dan memikirkannya.

[KESIMPULAN]

Tatkala telah ada subjek pemberi pengaruh (al-Quran), objek (kalbu yang hidup), syarat (mengarahkan pendengaran dan perhatian) dan hilangnya penghalang (kelalaian hati dari kalimat yang ditujukan kepadanya); maka tercapailah pengambilan manfaat dari al-Quran.

Marji' : Kaifa Nafhamul Quran karya Syaikh Jamil Zainu (terjemahan: Bagaimana Kita Memahami al-Quran, penerbit: Cahaya Tauhid Press)