Catatan Prasetyo Abu Kaab

Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

21 November 2016

Ringkasan Fawaid Hadis Haramnya Kedhaliman - Arbain Nawawi XXIV

November 21, 2016 Posted by Abu Kaab , , , , , No comments
Dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hadits yang diriwayatkan dari Rabb-nya bahwa Dia berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah orang yang sesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri kalian petunjuk. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah lapar kecuali siapa yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku, pasti Aku beri kalian makan. Hai hamba-hamba-Ku! Setiap kalian adalah telajang kecuali siapa yang Aku beri pakaian, maka mintalah kepada-Ku pakaian, pasti Aku akan beri kalian pakaian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian melakukan dosa di malam dan siang hari sementara Aku mengampuni dosa-dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni kalian. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya kalian tidak akan sampai kepada bahaya-Ku lalu kalian membahayakan-Ku, dan tidak akan sampai kepada manfaat-Ku lalu kalian memberi-Ku manfaat. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling bertakwa salah seorang dari kalian, tentu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada pada hati yang paling durhaka salah seorang dari kalian, tentu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Hai hamba-hamba-Ku! Seandainya yang paling awal dan terakhir dari kalian baik jin dan manusia semuanya berada di atas satu bukit, lalu semuanya meminta kepada-Ku, lalu Aku beri semua permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi sedikitpun apa yag ada di sisi-Ku, secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan. Hai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya itu hanyalah amal-amal kalian yang Aku tulis untuk kalian kemudian Aku sempurnakan itu untuk kalian. Barangsiapa yang mendapati kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain itu janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنْ أَبي ذرٍّ الغِفَارْي رضي الله عنه عَن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيمَا يَرْويه عَنْ رَبِّهِ عزَّ وجل أَنَّهُ قَالَ: «يَا عِبَادِيْ! إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمَاً فَلا تَظَالَمُوْا. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فاَسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِيْ! كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعَاً فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضَرِّيْ فَتَضُرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فَيْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِيْ شَيْئَاً. يَا عِبَادِيْ! لَوْ أنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ المِخْيَطُ إَذَا أُدْخِلَ البَحْرَ. يَا عِبَادِيْ! إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرَاً فَليَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ» رواه مسلم.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Dhalim yaitu penempatan sesuatu bukan pada tempatnya, Ibnu Taimiyah. (SU)
  2. Haramnya kedhaliman dari dua sisi :  (SU)
    1. Allah telah mengharamkannya atas Dirinya sendiri
    2. Allah telah menjadikannya haram antar manusia
  3. Kedhaliman ada dua tingkatan (SAS)
    1. Kedhaliman terhadap dirinya sendiri, ada dua : kesyirikan, dan mencampakkannya ke adzab;
    2. Kedhaliman terhadap hamba-hamba Nya, yaitu dengan melalaikan hak-hak mereka.
  4. Besarnya kebutuhan hamba kepada Allah. (SAM)
  5. Kesempurnaan kekuasaan dan kekayaan Allah; dan tidakbutuhnya Dia dari hamba-Nya. (SAM) 
  6. Kalimat terakhir mencakup dua makna : perintah, dan khabar. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Penetapan sifat adil, sebagai lawan darinya. (SAS)
  2. Menggabungkan hadis ini dengan hadis fithrah. (IRH)
  3. Hidayah ada dua, hidayah irsyaad wat taufiiq, dan hidayah terhadap rincian iman dan islam. (SAS)
  4. 'secuali sekedar seperti berkurangnya samudra jika jarum dimasukkan', yaitu tidak berkurang sedikitpun. (SAM)
  5. Makna ihshaa, yaitu mencakup pengetahuan dan penulisan terhadap rincian; dan penjagaannya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

7 November 2016

Ringkasan Fawaid Hadis Malu - Arbain Nawawi XX

November 07, 2016 Posted by Abu Kaab , , , , No comments
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Teks Hadis
عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقبَة بنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ مِمَّا أَدرَكَ النَاسُ مِن كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئتَ» رواه البخاري.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. ‘Bila kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.’ mempunyai dua makna (SU) :
    1. Perintah, sesuai dhohirnya; yaitu jika yang akan dilakukan itu tidak memalukan, baik di sisi Allah, maupun di sisi manusia; maka silahkan melakukannya.
    2. Bukan perintah, memiliki dua kemungkinan :
      1. Perintah bermakna ancaman,
      2. Perintah bermakna khabar
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Seluruh ajaran islam berporos di atas hadis ini. (IN)
  2. Keutamaan malu, dan sifat malu ada dua macam : sifat bawaan, sifat yang diusahakan. (SAS)
  3. Nubuwwatil uulaa, seperti Nuh, Ibrahim; bukan Musa, dan Nabi-nabi bani Israil lainnya. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

24 Oktober 2016

Ringkasan Fawaid Hadis Bertakwa kepada Allah - Arbain Nawawi XVIII

Oktober 24, 2016 Posted by Abu Kaab , , , , No comments
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan,” dalam redaksi lain, “Hasan shahih.”

Teks Hadis
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسنٌ صحيح.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Hadis ini mengandung dua wasiat Nabi (SU)
    1. Hak Allah, yaitu takwa dan mengikuti kejelekan dengan kebaikan
    2. Hak hamba, yaitu bermuamalah kepada makhluk dengan akhlak yang baik
  2. Takwa yaitu pengambilan pelindung oleh seorang hamba, antara dia dengan yang dia takuti, dengan memenuhi tuntunan syariat. (SU)
  3. Mengikuti kejelekan dengan kebaikan memiliki dua tingkatan. (SAS, SU)
  4. Akhlak yang baik, yaitu badzlun nadaa wa kafful adza (SAS)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Makna al-khuluq, dalam syariat ada dua : umum (agama) dan khusus (muamalah dengan manusia). (SU)
  2. Takwa merupakan wasiat yang paling agung. (SAS)
  3. Pengertian takwa menurut Thalq bin Habiib (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

17 Oktober 2016

Ringkasan Fawaid Hadis Berbuat Baik dalam Segala Sesuatu - Arbain Nawawi XVII

Oktober 17, 2016 Posted by Abu Kaab , , , , , No comments
Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Maka, apabila kalian membunuh membunuhlah dengan cara yang baik, dan apabila kalian menyembelih menyembelilah dengan baik pula. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan mempermudah penyembelihan.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Teks Hadis
عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ» رواه مسلم.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Bisa dimaknai dengan kitaabah qorariyyah dan kitaabah syar'iyyah. (SU, SAS) Makna yang kedua lebih nampak (SAS)
  2. Perintah ihsan dalam segala sesuatu, seperti ibadah, mumalah dg manusia, hewan, jin, malaikat, dll (SAS)
  3. Ihsan berkaitan dengan ibadah, maka maksudnya ialah ihsan yang wajib. (SAS)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Adab-adab dalam membunuh. (SAS)
  2. Adab-adab dalam menyembelih hewan. (SAS, IN)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

Ringkasan Fawaid Hadis Jangan Marah - Arbain Nawawi XVI

Oktober 17, 2016 Posted by Abu Kaab , , , , , No comments
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku nasihat!” Beliau menjawab, “Jangan marah.” Dia mengulangi beberapa kali dan beliau menjawab, “Jangan marah.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Teks Hadis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوصِنِيْ! قَال: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا وَقَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» رواه البخاري.

Ringkasan Fawaid Utama
  1. Termasuk salah satu dari 4 hadis yang mengumpulkan adab-adab yang baik. (IN)
  2. Larangan dari marah, mencakup dua perkara : (SU)
    1. dari mendatangi sebab-sebab kemarahan
    2. dari melampiaskan kemarahan
  3. Larangan di sini, hanya untuk marah karena dirinya sendiri. Sementara marah karena Allah, merupakan perkara yang diperintahkan, dan merupakan tanda-tanda keimanan. (SU)
Ringkasan Fawaid Tambahan
  1. Keutamaan menjaga dari marah. (IN, IDQ)
  2. Cara mengobati marah (IN, SAS)
  3. Bermacam-macamnya wasiat Rasulullah, bisa karena dua kemungkinan. (SAS)
  4. Tentang taghoful. (SAS)


Maraji' :
- IN : Imam Nawawiy, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- IDQ : Ibnu Daqiiq al-`Ied, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SAS : Syaikh Shalih Alu Syaikh, Syarh Arba'in an-Nawawiyyah, cet I, Darul Mustaqbal, Mesir, 1426 H.
- SU : Syaikh Shalih al-`Ushaimiy, Dars Syarh Arbain, http://j-eman.com, 1433 H.

21 April 2015

Abu Hurairah - Penghafal hadits lagi Orang yang Berbakti kepada Orang Tua

April 21, 2015 Posted by Abu Kaab , , , No comments
Beliau adalah ‘Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausy radhiyallahu ‘anhu. Beliau masuk islam pada tahun ke-7 Hijriyah.

Paling Banyak Hafalannya

Setelah masuk islam, beliau terus memusatkan perhatiannya untuk menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam suatu majelisnya, “Barangsiapa yang membantangkan kainnya, maka dia tidak akan lupa terhadap apa-apa yang telah dia dengar dariku. ” Maka Abu Huraira membentangkan kainnya sampai beliau shallallahu ‘alaih wa sallam menyelesaikan haditsnya, lalu dia meraih kainnya tersebut. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila beliau radhiyallahu ‘anhu merupakan shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits darinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Imam Syafi’I mengatakan tentang beliau radhiyallahu anhu : “la merupakan seorang yang paling banyak hafalannya di antara seluruh perawi hadits sesamanya.”
Imam Bukhari mengatakan, “Ada delapan ratus orang atau lebih dari shahabat, tabi’in, dan ahli ilmu yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah.”
Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan hafalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Maka dia dipanggil, dan dibawa duduk bersamanya. Kemudian, dia diminta untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sementara itu, dia menyuruh penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari balik dinding. Setelah berlalu satu tahun, Abu Hurairah dipanggil kembali dan diminta untuk menyampaikan kembali hadits-hadits yang dulu ia sampaikan di tempat tersebut. Ternyata, tidak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, walau satu patah kata pun.

Berbakti kepada Orang Tua

Semenjak ia menganut Islam, tidak ada yang memberatkan dan menekan perasaannya dari berbagai persoalan hidupnya, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya yang waktu itu menolak untuk masuk Islam, bahkan ia sesekali mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di depannya… Namun demikian, hal itu tidak membuat dia patah semangat untuk senantiasa berbakti kepadanya, khususnya dengan berusaha memberikan hidayah kepada ibunya untuk masuk Islam.
Imam muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yazid bin 'Abdurahman, bahwasannya ia berkata: Abu Hurairah bercerita kepadaku:
“Aku senantiasa mengajak ibuku yang masih musyrik untuk masuk islam. Suatu hari, ketika aku mengajaknya untuk masuk islam, ia malah mengucapkan kepadaku tentang Rasulullah sesuatu yang aku tidak senang mendengarnya. Lalu aku mendatangi Rasulullah dalam keadaan menangis, kemudian aku katakan kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, aku mengajak ibuku untuk masuk islam. Akan tetapi, ia enggan, bahkan sampai mengucapkan sesuatu tentang Engkau yang aku tidak senang mendengarnya. Berdo'alah, agar Allah memberi hidayah kepada ibuku.' Maka Rasulullah bersabda: 'Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.'
Kemudian, aku (kata Abu Hurairah) keluar dalam keadaan berbahagia dengan do'a dari Rasulullah. Setelah sampai di depan rumah, aku dapati pintunya tertutup. Ibuku mendengar langkah kakiku, lalu ia berkata: 'Tetaplah di tempatmu, wahai Abu Hurairah!' Saat itu, aku mendengar suara air.” Dia (Abu Hurairah) berkata (melanjutkan ceritanya): “Ibuku mandi, lalu segera memakai baju dan kerudungnya. Setelah itu, ia membuka pintu dan berkata : 'Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwasannya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku juga bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.'
Kemudian, aku kembali menemui Rasulullah sambil menangis karena sangat bahagia. Aku berkata kepada beliau: 'Wahai Rasulullah, berbahagialah! Sungguh Allah telah mengabulkan do'amu dan telah memberi hidayah kepada ibunya Abu Hurairah.' Kemudian beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya dan mengatakan sesuatu yang baik. Aku pun berkata: 'Wahai Rasulullah, berdo'alah kepada Allah agar menjadikanku dan ibuku mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menjadikan merekapun mencintai kami.' Rasulullah bersabda: “Ya Allah, jadikanlah hati kaum mu'minin mencintai kedua hamba-Mu ini – yakni Abu Hurairah dan ibunya – dan jadikanlah keduanya mencintai kaum mu'minin.” Maka tidak ada seorang mu'min pun yang mendengar dan melihatku, kecuali ia mencintaiku.'” (HR. Muslim)

Bagi pembaca yang ingin mendapatkan biografi yang lebih rinci tentang beliau, silahkan membaca kitab al-Ishobah karya Ibnu Hajar rahimahullah.
Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk-Nya kepada kita untuk bisa mengikuti jalan beliau dan para shahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.